Peta Bahaya Gempa Terbaru Ungkap Ancaman Megathrust, Pesisir Jawa hingga Selat Sunda Berisiko Tsunami

Gempa Megathrust Ancam Indonesia

Pembaruan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 kembali menyoroti besarnya potensi gempa megathrust di sejumlah wilayah Tanah Air. Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik memiliki belasan zona subduksi aktif yang menyimpan energi tektonik besar.

Salah satu perhatian utama tertuju pada zona subduksi selatan Jawa yang memanjang hingga Selat Sunda. Wilayah ini dinilai berisiko tinggi karena energi tektonik terus terakumulasi dan belum dilepaskan dalam waktu lama.

Energi Tektonik yang Terus Terkunci

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nuraini Rahma Hanifa, menjelaskan bahwa energi di zona subduksi selatan Jawa terus bertambah seiring pergerakan lempeng.

Jika akumulasi energi tersebut dilepaskan secara tiba-tiba, gempa bumi berkekuatan besar berpotensi terjadi. Menurut perhitungannya, magnitudo gempa dapat mencapai M 8,7 dan memicu tsunami.

Tsunami Berpotensi Menjalar ke Berbagai Wilayah

Gempa besar di zona megathrust dapat memicu perpindahan kolom air laut dan menghasilkan gelombang tsunami yang menjalar ke berbagai arah, termasuk daratan.

Baca Juga :  Sjafrie: Penertiban SDA Jadi Upaya Indonesia Menjaga Reputasi Internasional

Semua pesisir Banten itu akan berdampak tapi dengan tinggi (tsunami) yang berbeda-beda,” ungkap Rahma kepada CNBC Indonesia, Minggu (16/2/2025).

Ia menyebutkan, jika megathrust selatan Jawa di wilayah Pangandaran pecah, tsunami setinggi sekitar 20 meter dapat terjadi. Gelombang kemudian menyebar ke Selat Sunda.

Kawasan pesisir Banten kira-kira tsunami 4 sampai 6 atau 8 meter,” sebutnya. “Lampung yang menghadap Selat Sunda akan kena semua.”

Jakarta Juga Berpotensi Terdampak

Wilayah pesisir utara Jakarta diperkirakan turut terdampak tsunami dengan ketinggian 1 sampai 1,8 meter. Gelombang diproyeksikan tiba sekitar 2,5 jam setelah gempa terjadi.

2,5 jam tsunami tiba. Kalau Jawa bagian selatan 40 menit sudah sampai, Lebak itu 18 menit,” jelas Rahma.

Mitigasi Jadi Kunci

BRIN dan BMKG menekankan pentingnya kewaspadaan berbasis data ilmiah. Meski gempa tidak dapat diprediksi waktunya, penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan dinilai krusial untuk mengurangi risiko korban dan kerusakan.

Related posts